Beruntung Karena Bersabar
Judul : Ranah 3 Warna
Penulis : A. Fuadi
Tahun Terbit : 2011
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 473
Cetakan : V
Ahmad Fuadi lahir di nagari Bayur, sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau tahun 1972, tidak jauh dari kampung Buya Hamka. Ibunya guru SD, ayahnya guru madrasah.
Lalu Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi permintaan ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan dalam mengajar. Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, ”man jadda wajada”. Juga sebuah hukum baru: ilmu dan bahasa asing adalah anak kunci jendela - jendela dunia. Bermodalkan doa dan manjadda wajada, dia mengadu untung di UMPTN. Jendela baru langsung terbuka. Dia diterima di jurusan Hubungan Internasional, UNPAD.
Semasa kuliah, Fuadi pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada. Di ujung masa kuliah di Bandung, Fuadi mendapat kesempatan kuliah satu semester di National University of Singapore dalam program SIF Fellowship. Lulus kuliah, dia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Sebuah jendela baru tersibak lagi, Tempo menerimanya sebagai wartawan. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.
Selanjutnya, jendela-jendela dunia lain bagai berlomba-lomba terbuka. Setahun kemudian, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk program S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya yang juga wartawan Tempo adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Tahun 2004, jendela dunia lain terbuka lagi ketika dia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Kini, penyuka fotografi ini menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi: The Nature Conservancy.
Tidak punya cukup uang untuk sekolah, Fuadi bekerja keras untuk mencari beasiswa sejak kuliah. Tidak sia-sia, sampai sekarang Fuadi telah mendapatkan 8 beasiswa dari luar negeri, membuat dia bisa mencicipi pengalaman belajar di Kanada, Singapura, Amerika Serikat dan Inggris.
Alif, merupakan lulusan dari Pondok Pesantren Madani Ponorogo, memiliki impian untuk belajar hingga ke negeri Paman Sam. Dengan semangat yang membara dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya, Randai meragukan dia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang tidak dia miliki, yaitu ijazah SMA. Karena terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat tersebut. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif pun hampir menyerah, tapi dia teringat oleh mantra dari pondoknya ”man shabara zhafira”. Siapa yang bersabar, maka ia akan beruntung. Pengumuman UMPTN pun tiba, Alif diterima di HI-UNPAD, walaupun tidak sesuai dengan pilihannya yaitu ITB, tetapi Alif tetap menerimanya.
Dibekali sepatu hitam oleh ayahnya Alif berangkat ke Bandung untuk memulai kuliah. Berbagai tantangan dia hadapi selama kuliah di UNPAD, mulai dari keinginan menjadi seorang penulis dengan berguru ke seorang senior bernama Bang Togar yang mendidiknya dengan keras hingga artikel Alif dimuat di media lokal Bandung. Namun malang tidak dapat ditolak, baru beberapa bulan Alif kuliah, ayahnya meninggal. Kehilangan sosok ayah yang menjadi tulang punggung keluarga membuatnya goyah, siapa yang akan membiayai sekolah adik-adiknya? Alif hampir putus asa, tapi sosok seorang Ibu menyemangatinya sehingga dia melanjutkan kembali kuliahnya. Dalam perjalanan kuliahnya, Alif mencoba mengikuti tes pertukaran pelajar ke Amerika, bermodalkan niat dan tekad, Alif pun berhasil lolos dengan berbagai pertimbangan yang diberikan oleh panitia. Kanada! Ya, itu tempat yang akan Alif tuju. Impiannya untuk menginjakkan kaki di Amerika akhirnya tercapai. Raisa, perempuan yang Alif sukai pun lolos seleksi pertukaran pelajar. Alif menambah banyak teman, dari rombongan pertukaran pelajar tersebut.
Di sebuah kota kecil di Kanada Alif tinggal. Dia tinggal dengan home stay parent yang bernama Franco Pepin. Banyak pengalaman yang Alif dapatkan saat di Kanada, mulai canda, tawa, cinta, dan sedih bercampur menjadi satu hingga Alif mendengarkan pernyataan dari Raisa secara tidak sengaja yang menyatakan bahwa dia tidak ingin pacaran, tapi dia ingin langsung ke jenjang pernikahan. Hal ini menyebabkan Alif mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya, dia menyimpan surat itu hingga suatu hari nanti. Setahun berlalu, Alif dan rombongan pertukaran pelajar kembali ke Indonesia.
Beberapa tahun kemudian, Alif lulus, tapi di hari kelulusan itu, saat dia ingin menyerahkan surat tersebut ke Raisa, hal yang tidak disangka terjadi, Raisa telah bertunangan dengan Randai, kawan karibnya!. Dengan perasaan yang campur aduk dia berusaha mencoba untuk menerimanya. Setelah 10 tahun, Alif menepati janjinya ke Franco Peppin untuk mengunjungi dia kembali di Kanada dengan seorang istrinya. Di puncak bukit kota itu dia menatap terbitnya matahari dengan istrinya, dia bernostalgia dengan perjuangannya yang keras, hingga dia bisa menjadi seperti ini, berkat 2 mantra dari Pondok Madani “man jadda wa jada” dan “man shabara zhafira”.
Dalam hal organisasi novel ini, hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain harmonis dan dapat menimbulkan rasa penasaran pembaca. Karena dalam penceritaan isi novel tidak berbelit-belit, juga alur yang digunakan dalam novel ini merupakan alur maju, sehingga membantu pembacanya untuk mudah memahami apa yang disampaikan oleh penulis.
Saya sangat merekomendasikan untuk membaca novel ini, sebab kisah yang diangkat oleh penulis, ditulis berdasarkan kejadian nyata didalam hidupnya. Novel ini juga sarat akan amanat yang dapat dipetik dan dijadikan sebagai pembelajaran dalam menghadapi lika-liku kehidupan.
Muhammad Rizki Al Hasan
XII IPA 2